Rabu, 18 Maret 2020

CERPEN

TLOTS
(the love of the story)

Dibawah rintik hujan, aku berjalan termenung.
Tak kuhiraukan lalu lalang kendaraan disampingku. Air mata yang terus mengalir sedari tadi tak sanggup ku hentikan. Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan kudengar seseorang memanggil-manggil namaku.
 “Mel!! Ngapain sih hujan-hujanan? Di Cari dari tadi juga. Ayo masuk mobil!!” Dia, Tasya menarik tanganku masuk kedalam mobil.
Entah berapa kali Tasya mengajakku bicara dan tak ku acuhkan.

Pandanganku masih keluar jendela. Hujan semakin deras, ingatan seminggu yang lalu kembali. Hari dimana aku kehilangan sahabat-sahabatku dan kini orang yang kucintai terkapar tak berdaya di rumah sakit.
“Mawar, aku lagi pengen jalan nih.” Kataku pada Mawar.
“Aku juga. gimana kalau nonton?”
“Boleh. Sekalian ke toko buku ya. Ada novel yang baru terbit.” Jawabku antusias.
“Hei!! Ngapain pada cengengesan gitu?” Tanya Firman yang muncul sambil menenteng plastik berisi makanan ringan.
“Pengen tau aja urusan cewek.” Cibirku.
“Hmm, gitu amat. Pulang yuk!!” Ajaknya .
“Pulang atau Nonton?” Tanya Mawar.
“Nonton dong.” Jawabku cepat. Firman hanya berdecak, meski begitu ia tetap berjalan mengikuti kami.
~~

Sejak Tasya pergi keluar kota, kami jarang nongkrong untuk sekedar menghilangkan penat. Dan hari itu kami habiskan waktu untuk berjalan-jalan ke taman kota, nonton dan berakhir di toko buku. Kami pulang sehabis sholat Isya di masjid yang kami lewati.

Mawar yang memang sudah sangat dekat denganku juga keluargaku, malam itu menginap di rumahku.
“Duh, capek banget.” Kataku seraya merebahkan diri di tempat tidur.
“Iya, tapi seru kan? Udah lama kita gak hangout bareng. Apalagi sama Firman.”
“Hah?! Maksudnya??” Tanyaku dengan mengernyitkan dahi.
“Ehm. Nggak, kan dia jarang bisa diajak jalan bareng.” Jawab Mawar. Kedengaran aneh seorang Mawar memuji dan orang itu “Firman”. Meski sedikit ganjil di telingaku, tak kuhiraukan karena tubuhku mataku sudah sangat lelah, hingga aku tertidur dengan masih menyimpan banyak pertanyaan.

Esoknya, aku melihat Mawar yang sudah rapi di depan meja riasku.
“Mau kemana sih? Masih pagi juga.” Tanyaku sambil menarik selimut lebih tinggi.
“Keluar bentar sama Firman.” Jawab Mawar. Dia memoles lip tint dan merapikan rambut yang tergerai. Selimut yang tadi menutupiku langsung kubuka.
“Apa? Firman?” Tanyaku kaget.
“Iya sayang.”

Aku masih tercenung, hingga handphone ku berbunyi, sebuah panggilan dari Tasya.
“Halo Sya, pagi-pagi udah telpon aja.”
“Dih, gitu amat. Nyesel deh telpon pagi-pagi.”
Aku terkekeh. Kulihat Mawar tak acuh, padahal dia yang sering menanyakan kabar Tasya.
“Eh, iya Sya. Maaf, baru bangun tidur. Nyawanya belum ngumpul.”
Aku tak fokus dengan pembicaraan Tasya, Mawar melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Dan aku masih tercengang.
“Duh, Mel !! Kamu gak dengerin aku. Udah ah, tutup aja.” Tasya mulai jengkel.
“Ya udah,kamu hati-hati disana! Jangan lupain aku!! Dan kalau balik kesini, orang pertama yang kamu temui harus aku.” Aku meminta maaf sebelum mengakhiri panggilan.
~~

Aku berjalan tergopoh-gopoh sambil sesekali melirik jam tanganku. Pagi ini Tasya telpon lagi, dan aku selalu lupa waktu jika sudah bersamanya. Dan konsekuensi hari ini aku harus terlambat masuk kantor.

“Kemana aja sih?” Tanya Mawar.
“Tasya kelamaan telpon” jawabku sedikit berbisik.
“Pake diangkat segala.” Kata Mawar, memalingkan pandangan dariku. Sontak aku menoleh padanya.
Sejak kapan dia tak peduli dengan sahabatnya? Batinku.
Hingga jam kerja berakhir aku masih memikirkan sikap Mawar dan tetap tak terjawab.
“Mel!!” Seseorang menepuk pundakku, ternyata Bian.
“Hei, kok disini?” Tanyaku.
“Kemana aja sih? Dihubungi dari tadi gak diangkat. Hp kamu ketinggalan? Sibuk banget?” Alih-alih menjawabku, ia justru memberondong dengan pertanyaannya.
“Kamu marah-marah atau khawatir sih?” Heran dengan sikapnya.
Dia berdecak, merangkul pundakku dan menggiringku ke tempat parkir. 🀦🏻‍♀️
“Aku khawatir, makanya langsung datang kesini.” Ekspresinya datar.
Sorry.” Dan benar saja,hp ku penuh dengan pesan dan panggilan dari Bian. Aku meringis.
“Ya udah, lupain! Btw kok gak sama Mawar ?” Tanya Biar sambil memberikan helm padaku.
“Tadi Mawar meeting diluar. Mungkin langsung pulang.”
“Naik.” Suruhnya, dengan berpegangan pundaknya ku naiki motor Bian.

Rupanya Bian mengajakku ke taman tempat aku dan sahabat-sahabatku berkumpul.
“Sayang.” Panggil Bian.
“Hmm?” Aku menoleh. Dan sebuah kalung menggantung di jari Bian. Aku masih diam.
“Ini buat kamu.” Bian memasangkan kalung berliontin bintang di leherku. Aku memperhatikannya.
“Buat apa? Ini bagus banget” Tanyaku masih memandang kalung pemberiannya.
“Tadinya aku mau ngasih tunjuk kamu. Tapi karena kamu gak bales chat ku, jadi aku pilih itu.” Jawab Bian, sedikit merajuk (pura-pura merajuk) 😁
“Maaf ya, dan makasih banget. Tapi seharusnya kamu gak perlu lakuin ini.” Ucapku sambil memegang lengannya.
“Hmm. Eh, itu Firman sama Mawar kan?” Bian menunjuk ke arah belakangku. Aku menoleh.
“Ya ampun. Seharian aku dicuekin dan mereka kesini gak ngajak aku.” Aku berdiri, hendak menghampiri mereka. Sebelum tanganku dicekal Bian.  Aku menoleh, menatapnya bingung.
“Mereka kesini gak sebagai sahabat, tapi sebagai kekasih.” Jelas Bian. Aku masih mengamati mereka berdua. Setelah ku atur nafas, aku benar-benar menghampiri mereka.
“Kalian ngapain disini?” Tanyaku datar.
Mereka terkejut.
“Kalian jadian? Sejak kapan? Kita pernah sepakat untuk ini kan? Seenggaknya kalian cerita, toh selama ini kita sama-sama.” Nafasku naik turun menahan emosi.
“Mel, udah cukup kamu ngurusin urusan orang lain.” Mawar bersuara, aku tersentak tak percaya.
“Aku?? A-apa maksud kalian? Kita udah sahabatan lama kan?” Air mataku sudah tak sanggup ku bendung.
“Iya, kamu. Kamu sadar gak sih, selama ini selalu ikut campur urusan orang lain. Membatasi kehidupan kami. Berhenti sok jadi sahabat yang baik di depan kami!” Kali ini Firman yang bersuara. Bukan, itu perintah.
“Hei, bung. Turunkan nada bicaramu!” Bian memperingatkan.
“Ck, gak terima? Gue bosen denger rengekan pacar lo yang manja ini. Cuma menang tampang doang, belagu.” Aku tercengang mendengar kalimat kasar Firman. Untuk pertama kalinya dia berkata kasar tentangku.
“Shit!” Satu tonjokan menghantam rahang Firman. Aku mengatup mulutku dengan tangan.
Firman membalas pukulan Bian. Aku berteriak meminta mereka berhenti. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Mawar pingsan. Aku panik. Tak ada seorangpun. Taman ini sepi, hanya ada kami berempat.

Aku menghampiri Mawar, mengguncang tubuhnya.
Bian masih adu jotos dengan Firman. Kulihat seorang laki-laki seusia kami datang, sedikit lega. Mungkin dia akan melerai keduanya. Tapi aku salah. Bianku dihajar, dia membantu Firman. Aku terus berteriak. Bian tersungkur, wajahnya babak belur. Aku berlari menghampirinya, menghadang Firman yang hendak memukulnya lagi.
“CUKUP!! AKU UDAH LAPOR POLISI. KALIAN GAK AKAN BISA LEPAS LAGI.” dustaku. Aku hanya memanggil Ambulance.
“Shit! Kita pergi.” Perintah Firman pada temannya. Mereka pergi.
“Aku sayang kamu.” Ucap Bian lirih. Tanganku digenggam erat dan aku hanya bisa menangis. Aku bisa melihat darah di sekujur tubuhnya. Bahkan kepalanya yang kupangku pun berdarah. Kutahan bagian yang berdarah dengan tanganku.
Apa yang harus kulakukan? Mawar masih belum sadar hingga Ambulance datang dan membawa mereka berdua.

Di Rumah sakit. Mama dan keluarga Bian cemas di depan IGD. Aku sempat mengabari orang tua Mawar, tapi mereka belum datang. Mungkin terjebak macet.
“Ma, aku takut.” Aku masih menangis dipelukan mama.
“Semua akan baik-baik aja sayang.” Ucap mama mengelus kepalaku.
Aku merenggangkan pelukanku dan menghampiri mama Bian, ku genggam tangan beliau.
“Tante, maafin aku.” Aku mengecup tangan beliau. Kurasakan puncak kepalaku diusap lembut.
“Semua udah terjadi, biar kita jadikan pelajaran.” aku memeluk beliau. Pelukan yang sama hangatnya dengan pelukan mama.

Tak lama, dokter keluar dan mengatakan Bian kritis. Ada pembuluh darah di kepala yang pecah akibat pukulan benda tumpul. Sedangkan Mawar, dia baik-baik aja.
Mama mengajakku pulang, tadinya aku ingin tetap tinggal. Tapi mama Bian melarang.
“Percuma sayang, Bian belum sadar. Kamu harus istirahat, besok datang lagi.” Kata mama Bian padaku.
Aku menurut. Tenagaku habis setelah melewati hari ini. Pikiranku berkecamuk, bahkan aku memilih berjalan sendiri saat mama pamit ke kamar mandi sebentar.
Semuanya seperti mimpi. Hingga aku terbangun dan terkejut melihat gadis berkerudung biru di depan meja riasku. Di nakas juga sudah ada roti dan segelas teh hangat. 
“Udah bangun Mel?”
“Tasya.” Aku memeluk sahabatku itu dengan erat. Dan lagi-lagi aku menangis.
“Maafin aku udah ninggalin kamu. Seharusnya aku tau ini akan terjadi. Aku yakin Bian bisa menjagamu, bahkan saat mereka nantinya menjauhimu.” Tasya membalas pelukanku.
“Bian menjagaku dengan baik.”
“Heem, dia bahkan berencana melamarmu.”
Kulepaskan pelukanku. Memegang kalung yang diberikan Bian. Tasya memperhatikanku, dan tersenyum.
“Dia sudah melamarmu?” Aku diam.
“Belum?” Tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan.
“Dia hanya memberikannya setelah itu kejadiannya berubah.” Jawabku.
“Hari ini dia bilang akan melamarmu. Makanya aku diminta untuk datang.”
Aku kembali terisak mengingat kejadian kemarin.
~~

Setelah merias diri dan terlihat sedikit lebih segar. Aku dan Tasya ke rumah sakit untuk melihat keadaan kekasihku.
Aku mengernyitkan dahi saat menyadari ruangannya kosong. Seorang suster datang menghampiriku.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya sopan.
“Pasien di ruangan ini kemana?” Tanyaku tak sabar.
“Hmm. Sudah dibawa kembali ke kediamannya.”Jawab suster ragu.
Jantungku berdegup kencang. Tubuhku lemas. Tangisku pecah, Tasya membantuku berjalan.
“Kita ke rumah Bian sekarang!” Ajak Tasya.
Apa mungkin Bian?? Batinku. Aku menggeleng, meyakinkan diri untuk tidak berpikir negatif.

Sepanjang perjalanan aku hanya memandang lurus jalanan yang semakin macet, padahal rumah Bian hanya kurang 500 meter.
Tak sabar, aku pun berlari menuju rumah Bian. Tampak karangan bunga yang tak jelas, air mataku sudah tak bisa kubendung. Banyak orang berdatangan. Aku bahkan bisa melihat sepupu-sepupu Bian di bangku taman sedang bergurau. Rasanya ingin ku hampiri, dan ku tutup mulut mereka.
Disaat seperti ini, kenapa mereka bergurau? Pikirku.
Langkahku semakin dekat ke dalam rumah Bian. Dan……
Tak ada satu orang pun yang bersedih, mereka tersenyum bahkan tertawa. Aku tercengang.
Astaga, apa yang terjadi?? Aku mencari sosok yang bisa ku tanyai. Kulihat mama Bian menghampiriku. 
“Tante,apa yang terjadi? Bian dimana?” Tanyaku tak sabar.
Mama Bian tersenyum, aku mengernyitkan dahi.
"Kamu ke taman belakang dulu sana!!" Perintahnya lembut. Aku bingung, tapi langsung berlari ke taman belakang sesuai perintah mama Bian.

Taman itu dihiasi berbagai macam bunga. Indah, tapi kosong.
Sosok yang kuinginkan tak ada di manapun.
"Bian!! Kamu dimana??" Panggilku dengan suara parau.
"Bian, please!! Jangan main-main!!" Tubuhku merosot dan kembali terisak. Kurasakan lenganku diangkat untuk berdiri, lembut. Ada aroma mint yang kurindukan. Wangi yang selalu kusuka. Tubuhku diputar, aku bisa melihat siapa yang ada di depanku. Tersenyum. Menghapus air mata dan mengusap pipiku lembut.
Aku terpejam. Takut ini hanya mimpi. Tubuhku menghangat, satu pelukan yang jarang kurasakan. Bisa kurasakan detak jantungnya. Aroma yang semakin kuat.
"Bian?!" Wajahku menengadah. Dia tersenyum lagi.  Dielus puncak kepalaku.
"Maafin aku, aku gak akan bikin kamu takut lagi." Katanya.
"Kamu baik-baik aja? Kamu sembuh??" Tanyaku mengabaikan perkataannya. Dia mengangguk pelan.
"Mana mungkin Bian si juara karate kalah sama aku?" Seseorang di belakangku bersuara. Aku menoleh.
"Kamu???" Aku heran.
Dia menaikan alisnya. Tersenyum.
"Mel!" Seseorang yang lain datang dari arah belakang Bian.
"Mawar??" Aku semakin bingung.
"Ini apa-apaan sih?" Suaraku meninggi, menatap ketiganya.
"Heiii.. jangan marah! Aku salah, maaf udah bikin kamu kacau. Kami sebenarnya gak terlibat perkelahian apapun." Jelas Bian.
"Aku dan Firman emang udah jadian. Sorry, tapi serius deh kami memang mau bilang ke kamu." Kali ini Mawar yang bersuara dengan nada menyesal.
"Forget it! Kami mau lihat seberapa sayang kamu ke Bian. I'm so sorry, Mel." Kata Firman dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Kalian ngeraguin aku??? Kamu ragu sama aku, Yan?" Tanyaku masih tak percaya.
"No, i believe you! Sorry." Aku membuang nafas kasar.
"Kalian jahat banget."
"Udah selesai dramanya? Amel harus memperbaiki penampilannya." Suara mama Bian memecahkan keheningan kami. Aku menoleh.
"Maksud tante?" Tanyaku.
"Maafin Bian dan teman-temanmu sayang! Maafin tante juga yang udah mengiyakan drama konyol ini. Tapi terlepas dari semua ini, Bian memang sudah menyiapkan hari ini. Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah bukan saatnya main-main dalam berhubungan. Gak ada hal yang lebih baik dari sebuah pernikahan kan, nak?" Kata mama Bian lembut.
"Maksud tante ini apa?" Aku masih bingung.
"Hari ini kalian tunangan. Tante mau memperkenalkan kamu secara resmi ke seluruh keluarga kita. Calon menantu tante." jawab mama Bian. Menggandengku masuk ke dalam rumah. Di salah satu kamar, mama Bian memberiku gaun berbahan sifon dengan kombinasi brokat berwarna peach. Cantik. 

Setelah berganti pakaian, aku dirias. Ajaib. mata sembab dan segala kekacauan di wajahku hilang. The magic of make up.
Aku keluar. Mama dan Tasya menghampiriku.
"Maaf ya." Ucap Tasya. Aku hanya bergumam.
Seorang pembawa acara mempersilahkanku untuk duduk disebelah Bian. Aku masih berengut. Bian menarik tanganku, menggenggam dengan lembut. Dan tersenyum.
Duh, disaat seperti ini masih bisa senyum. Pikirku.

Sesuai instruksi MC, Bian memasangkan cincin di jari manisku. Cantik.
Kupandangi lama, dan aku baru menyadari kalau cincin itu sama dengan kalung yang diberikan Bian sebelumnya. Aku menoleh padanya. Dan dia mengangguk seolah tau apa yang kupertanyakan.
Acara selesai pada sore hari. Kini tinggal keluarga Bian dan keluargaku yang sedang berbincang. Tiba-tiba Bian menarik tanganku, mengajakku ke halaman.
"Kamu masih marah?" Tanyanya sambil memainkan jariku. Aku bergumam.
"Aku gak pernah meragukan kamu. Sedikitpun nggak."
"Aku menyesal, aku juga sakit liat kamu sekacau itu. Please, forgive me!" 
"Udah lah, udah lewat." Jawabku.
"Aku maafin, tapi kalau sampai terulang lagi. Aku gak akan diem aja" ancamku.
"Promise. Aku bukan janji untuk gak bikin kamu sedih atau nangis. Tapi aku janji untuk selalu hapus air mata kamu, dan hadapi apapun masalah kita nanti. Bersama." Kata Bian, menggenggam tanganku erat.
🌸🌸 Selesai 🌸🌸

Tidak ada komentar:

Posting Komentar