Sabtu, 02 Mei 2020

CERPEN II



Hi, high school !

Hai hai… kita berbagi sedikit cerita yuk!! Di masa sekolah, putih abu-abu. Yang katanya masa paling indah. Yaaa, aku setuju. Walaupun setiap masa pasti ada momen indah tersendiri yaa.. So, baca pelan-pelan yaa!!! J

Aku adalah salah seorang siswi sekolah menengah kejuruan swasta di Malang. Ehm, bukan sekolah bergengsi yang sering diunggul-unggulkan orang lain. Tapi disini, kutemukan orang-orang sederhana yang membawa banyak manfaat 
bagi hidupku. Teman dan pengalaman yang luar biasa.

Ingatanku kembali pada pertama kali kami masuk kelas. Aku duduk di bangku paling depan saat itu. Dengan ruangan yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menampung hampir 40 siswa-siswi. Berkenalan dengan teman sebangku dan lainnya. Menentukan struktur kelas. Jadwal pelajaran dan jadwal piket.

Tahun pertamaku berjalan lancar layaknya siswa baru yang beradaptasi dengan lingkungan baru, semua terasa menyenangkan. Teman yang baik  dengan berbagai karakter.

Di tahun kedua, kami mulai menemukan teman yang nyaman untuk bermain. Bukan berkelompok yang saling meringsak, hanya memilah dan bersosialisasi sesuai dengan kesamaan kami. Dalam hal kelas, kami tetap kompak.

Aku ingat saat itu awal semester di tahun kedua, kami kedatangan siswa dari jurusan yang sama di kelas yang berbeda. Irza. Sebelumnya aku tau dirinya hanya pada beberapa saat, seorang siswa yang juga sedang menempuh pendidikan agama di salah satu pesantren tak jauh dari sekolah. Hanya sekedar itu. Bahkan saat kami sekelas pun, tak banyak hal yang dibicarakan. Ehm, kurasa dia kurang mampu bersosialisasi.

“Hai, kalian udah kenal aku kan ? aku pindah karena satu-dua hal. Semoga kita bisa saling membantu” ucapnya kala itu.
Aku dan ida saling berpandangan. “Sedikit angkuh” batinku.
Sampai kami harus melaksanakan Praktek Kerja Lapangan selama 3 bulan.

 Saat itu, Facebook dan twitter menjadi social media yang sering digunakan. Dan aku sendiri cukup aktif di Facebook. Beberapa minggu setelah pelepasan siswa PKL, Irza mengirim pesan di Facebook. “Wow, seorang “Irza” ???” pikirku saat itu. Ternyata sesuatu tentang pelajaran matematika yang dibahas. Ehm, itu normal ditanyakan oleh siswa pindahan kan? Mungkin dia mencoba berbaur, dan diawali dari diriku. Dan jika aku boleh sedikit menyombongkan diri, aku cukup bisa diandalkan dibeberapa pelajaran, terutama matematika. :D

Layaknya seorang teman, kami pun saling sharing. Karena saat itu pun aku mendengar dirinya sedang dekat dengan salah satu teman yang juga cukup dekat denganku. Fiya. Sama-sama murid pesantren. “cocoklah” batinku.

3 bulan berlalu. Kami kembali ke sekolah untuk pelajaran efektif lagi. Cukup banyak hal yang terjadi, beberapa teman tidak kembali ke sekolah. Karena satu dua hal yang terjadi. Dan ternyata saat itu Irza dan Fiya juga sudah tidak sedekat waktu itu. Okay, itu juga wajar. Karena kami masih sangat muda untuk saling berhubungan. Apa aku salah ??

Well, singkat cerita kami memasuki tahun terakhir. Tahun penentuan kami untuk memasuki dunia baru, antara lulus dan tidak lulus. Lanjut perguruan tinggi atau bekerja. Ahhh.. sedih ya harus berpisah dengan orang-orang baik.

Tahun terakhir di sekolah dimulai dengan pengulangan pelajaran di kelas X dan XI. Ehm, untuk beberapa siswa mungkin hal itu menyebalkan.  Karena kami akan menghadapi try out dan Ujian Nasional. Akan banyak hal yang harus kami persiapkan. 

Oh ya, sedikit cerita dari aku dan Irza. Kami jadi cukup dekat saat itu. Bukan “pacaran” ya. Tapi dekat. Dia cukup banyak membantuku. Memberi banyak masukan dan hal-hal baik lainnya. Ini kenapa aku sebut masa ini adalah masa dimana aku mendapat banyak hal. Terutama hal-hal baik.

“Jangan mudah berkata “iya” jika kamu tak mampu melakukannya!”
 “Konsisten dengan apa yang kamu katakan! Jika kamu berkata akan melakukannya maka lakukan!”

Beberapa pesan yang Irza katakan padaku saat itu. Sebenarnya banyak sih, tentang angan-angan kami di masa yang akan datang. Universitas yang ingin kami masuki, beasiswa-beasiswa dan gelar yang ingin kami raih, negara yang ingin kami kunjungi. Haha. Tapi ini hanya angan, dimana mungkin hal yang kami inginkan tak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Who’s know??? Dan hal itu benar-benar terjadi. :D

“Kamu berniat lanjut pendidikan kan?” Tanyanya kala itu.
“ya, tentu. Jika semua berjalan sesuai keinginanku.” Jawabku.
“Apa selanjutnya pun kamu berniat menempuh S2?”
“Maybe.”
“Apa sih keinginanmu?”
“Ehm… Keliling dunia.”
“Mau keliling dunia sama aku?”
Aku terdiam sesaat. “Boleh”
“Tapi mungkin kita harus menghalalkan hubungan terlebih dahulu.”
“Jika kita berjodoh” balasku.

Itu hanya sebagian dari angan-angan kami. Sejujurnya, aku masih sangat mengingat setiap momen bersamanya.

Next…
Selain Irza, aku juga punya beberapa teman baik. 5 orang anak perempuan. Ika, Ayu, Ida, Elsa dan Shinta. Mereka juga pewarna hari-hariku di sekolah. Karakter kami sangat berbeda. Dan dari perbedaan itulah kami saling melengkapi. Melakukan banyak hal bersama, mengerjakan tugas Kejuruan bersama, daftar SMNPTN bersama dengan keriweuhan yang Masya Allah.

Aku ingat saat kami bersiap untuk pendaftaran SMNPTN. Saat itu di masjid sekolah, tempat para siswa berkumpul. Karena disanalah satu-satunya tempat ber-WiFi . haha

“Ahh.. gak tau ah, ribet banget daftar doang.” Ucapku kesal.
“Apa lagi sih?” Tanya Ika.
“Bantu aku daftar dong!!” pintaku penuh harap.
“Sana sama si Irza !”
“Astaga” rajukku. Well, hampir semua anak di kelas maupun kelas lama Irza mengetahui kedekatan kami.
“Za, bantu aku daftar SMNPTN yaa!!” kataku sedikit memohon. Dan hanya dibalas gumaman. “Ini anak benar-benar ya.”

Meski begitu Irza tetap membantuku, tak hanya mendaftar. Dia bahkan mengurus segala kelengkapannya. Aku hanya tinggal memenuhi persyaratan seperti foto keluarga, data-dataku. Lainnya Irza memang sangat bisa diandalkan.
Bukan hanya itu, saat tak seorangpun dari kami yang lolos SMNPTN, dan aku sudah hampir menyerah untuk melanjutkan pendidikanku. Irza diam-diam mendaftarkanku pada jalur SBMPTN. Dia memang sebaik itu. Dan aku bersyukur mengenalnya.


“Za, aku harus kemana ini? Tempat ini asing bagiku.” 

Tanyaku saat berada di salah satu universitas tempat peserta SBMPTN melangsungkan test. Aku dan Irza memang tidak tes di tempat yang sama, tapi masih cukup dekat.

“Kamu tanya ke pak satpam. Biasanya ada petanya.”  Balasnya.
“Jahat banget, aku dibiarin sendirian.”  Tidak dibalas. T.T

Akhirnya kami selesai tes hampir adzan maghrib. Irza menelponku.

“Kamu dimana? Udah selesai kan?”
“Udah, aku lagi didepan Matos. Nungguin angkot.”
“Aku gak bisa antar, aku boncengan sama ayah. Maaf”
“He’em, gak apa.” Meski sedikit kesal.
“Ya udah, hati-hati ya.”
“Iya.”
****
Hasil test SBMPTN  keluar, dan aku tidak lolos. T.T
Irza memintaku untuk tetap melanjutkan kuliah. Tapi sayangnya, aku harus berpikir rasional. Dimana keadaan keluargaku tak memungkinkan untukku kuliah tanpa beasiswa atau semacamnya. Dan aku pun memutuskan untuk bekerja.
Dari situlah  jarak antara aku dan Irza mulai terasa, ada sedikit kekecewaan padanya yang tiba-tiba begitu. Tapi… ya sudahlah. Dari kami berlima ternyata hanya Shinta yang melanjutkan pendidikan. Dan lainnya bekerja. Ehm, tapi tahun ini aku pun mulai melanjutkan pendidikan sih. :)
 
Meski jarang bertemu,sesekali kami tetap saling berkomunikasi. Tetap berhubungan baik dan saling mendoakan. Begitupun dengan Irza. Setelah kuberanikan untuk memperjelas keadaan apa yang telah terjadi, kami akhirnya berteman lagi. Maksudku saling berhubungan layaknya teman sekolah. Dan begitu sudah cukup menenangkan bagiku. Bagaimanapun jalan kami sudah berbeda. :)


Well, sekian cerita yang bisa kubagikan. Membosankan kah ??? :D
Untuk teman-teman yang saat ini masih menempuh pendidikan ataupun tidak. Coba untuk tetap menjaga hubungan baik dengan siapapun. Tetap semangat dan jangan berhenti berbuat baik! 
Terima kasih sudah membaca sampai akhir, dan aku akan sangat berterima kasih apabila ada saran maupun kritik yang bisa membangun kualitas menulisku.


Semoga sehat selalu, everyone….
By: Flameria